(Oleh : Supardi,S.Pd,M.Pd)
Malinau adalah kabupaten yang berada di propinsi Kalimantan Timur-Indonesia. Pada umumnya kalimantan adalah pulau yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Di kabupaten Malinau hujan sepanjang tahun tidak ada henti-hentinya.
Namun di daerah lain misalnya pulau Jawa. Di pulau jawa hujan tidak sepanjang tahun, enam bulan kemarau dan enam bulan turun hujan.
Perbedaan iklim kedua pulau ini sangat berpengaruh dalam berbagai bidang. Masing-masing pulau memiliki keunggulan. dan kelemahan. Dengan adanya hujan sepanjang tahun maka upaya pembangunan kawasan kalimantan khususnya kab. Malinau tidaklah secepat jika dibandingkan pulau jawa. Kondisi hujan menghalangi pekerja dan juga bangunan jalan misalnya cepat rusak karena sering di guyur hujan.
Tetapi jika kita melihat segi potensi hasil pertanian dan perkebunan yang ada istilahnya gagal panen karena pada saat padi mulai berbunga kekeringan, menyebabkan para petani kekurangan bahan makanan. Dalam hal ini boleh dikatakan Kalimantan khususnya Kab,malinau lebih berpotensi jika dibandingkan pulau jawa.
Dengan adanya hujan sepanjang tahun masyarakat kalimantan khususnya Kab.Malinau tidak pernah gagal panen karena kekeringan.
Jumlah masyarakat yang berdomisili di pulau jawa sekitar 55% dari jumlah seluruh warga indonesia. Daerah luar pulau jawa hanya sekitar 45% . Kondisi penyebaran penduduk yang tidak merata ini salah satu diantaranya kendala bangsa indonesia untuk mengoptimalkan pemberdayaan lingkungan.
Indonesia terkenal sebagai negara agraris, namun kenyataannya jika para siswa ditanya tentang cita-citanya mereka tidak ada yang ingin menjadi petani. Menjadi petani sepertinya suatu hal yang terpaksa, ada indikasi karena terbiasa duduk dan berada di dalam kelas sejak kecil sampai dewasa mereka tidak tahan terkena sengatan matahari.
Indonesia yang sangat subur tanahnya terutama di daerah kalimantan yang iklimnya sangat mendukung untuk bercocok tanam dengan istilah tiada kekhawatiran gagal panen karena kekeringan. Namun kondisi generasi muda yang tidak tahan panas maka mereka cenderung mencari pekerjaan sebagai PNS atau Non PNS yang lokasi kerjanya tidak tersengat matahari misalnya penjaga toko, penjaga restoran, penjaga perusahaan, pegawai perusahaan, dan lain-lain.
Menjadi petani bukan harapan para generasi penerus bangsa. Menjadi petani sepertinya suatu keterpaksaan karena apa yang dicita-citakan gagal .Kalau semua generasi muda berpikiran semacam ini maka yang terjadi adalah banyak lahan subur dan sangat berpotensi yang ditinggalkan atau tidak digarap.
Lahan pertanian di pulau jawa semakin menyempit seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang naik setiap tahun. Menurut hukum Thomas robert molthus pertumbuhan manusia mengikuti deret ukur, sedangkan pertumbuhan bahan pangan mengikuti deret hitung. Oleh sebab itu jumlah penduduk yang sangat banyak dan cenderung ada kekhawatiran terjadinya kekurangan pangan akibat kekeringan merupakan masalah yang sangat serius dan harus diselesaikan oleh bagian kependidukan dan transmigrasi.
Peningkatan angka kejahatan seiring berkurangnya bahan makan dan kebutuhan lainnya jika suatu daerah dilanda kekeringan. Angka kemiskinan meningkat seiring berkurangnya atau kurang tersedianya bahan pangan akibat kekeringan.
Potensi alam yang lain yang berada di daerah luar pulau jawa yaitu kalimantan khususnya Kab, malinau ini sangat besar. Untuk generasi muda yang ingin berkiprah dalam dunia pertanian dan perkebunan banyak areal yang siap dan luas untuk diberdayakan. Bekerja di kebun karet,kopi,kakao, sawit, dan sebagainya. Di perkebunan tidak sama jika dibandingkan di lahan pertanian. Di perkebunan teduh dan sejuk karena sinar matahari tidak langsung menyengat badan. Potensi ini seharusnya diketahui oleh generasi muda penerus bangsa khususnya pada pulau yang banyak penduduknya dan rawan gagal panen.
Jika ingin sukses dalam hidup, sesungguhnya kesuksesan itu ada didaerah yang sangat potensial, sedikit pesaing, dan memiliki keberanian untuk berpisah dengan keluarga dan percaya bahwa orang lain pun dapat menjadi tumpuan harapan.
Di pulau kalimantan khususnya di Kab. malinau masalah harga tanah memang beragam harganya. Ada yang sangat mahal dan juga ada yang sangat murah. Luas areal tidak sebanding dengan rata-rata harga jual di pulau jawa.
Sebenarnya hal tersebut di atas kurang diketahui oleh para generasi pulau lain khususnya pulau jawa. Namun jika sudah mengerti melalui media masa atau media-media yang lain maka keinginan untuk pergi dan merubah nasib ke pulau lain khususnya pulau kalimantan ini terhalang oleh :
1. Karena tidak ada bekal atau uang saku untuk bepergian.
2. Ada kekhawatiran jika ada halangan misalnya sakit siapa yang harus menolong biaya berobat.
3. Belum tahu adat istiadat masyarakat yang dituju.
4. Adanya rasa takut kepada masyarakat yang dituju.
5. Takut kesepian
6. Dan lain-lain.
Besarnya rasa takut dan kekhawatiran jika dibandingkan dengan keinginan dan harapan merubah nasib, memaksa mereka bertahan di suatu pulau walaupun pulau tersebut rawan kekeringan., marak kejahatan, banyak pengemis jalanan, dan banyak orang kekurangan.
Halangan atau hambatan itu dapat diselesaikan dengan jalan dialog terbuka antar ketua adat, ketua suku, jajaran pemda,para pengusaha, dan orang-orang yang berkepentingan yang lain yang sifatnya menawarkan untuk datang dan berusaha di daerah baru yaitu di daerah yang tidak pernah ada musim kering dan sangat berpotensi.
Dialog-dialog yang tidak banyak memerlukan biaya adalah lewat media televisi, terutama TVRI. Dialog-dialog tersebut dijadikan suatu keharusan menonton khususnya daerah yang rawan kekurangan pangan akibat musim kering yang dapat menyebabkan gagal panen. Informasi bisa melalui para guru dan dosen serta tenaga-tenaga pendidikan yang lain.
Dengan dialog-dialog tersebut maka diharapkan daerah-daerah lain khususnya yang rawan kekurangan bahan makanan akibat kekeringan atau seringnya gagal panen serta sempitnya lahan, mengerti bahwa ada daerah lain yang memiliki potensi alam yang sangat besar, masyarakatnya ramah, ada pendidikan, mau menerima, dan hal-hal lain yang sifatnya memberi tahu dan menimbulkan keinginan khususnya generasi muda untuk merubah nasib di daerah baru walaupun bukan pulaunya tetapi masih dalam kesatuan negara republik Indonesia.
Selesai